Saturday, November 11, 2017

Skripsi, Emosi, Dan Cinta

Skripsi, Emosi, dan Cinta - Sebagaimana kita ketahui bahwa menjadi mahasiswa-mahasiswi akan melewati fase kritis dimana saat sudah memasuki jenjang akhir atau mulai menggarap skrisi.

Berbicara tentang skripsi tentu sangat akan menguras otak, emosi dan cinta. Kenapa demikian? Sebab, skripsi akan membuat seseorang untuk selalu berfikir keras, membuat seorang lelaki atau peremuan yang duduk di jenjang strata 1 untuk melihat celah dimana ia harus memulai.

Seperti halnya memulai untuk menulis sebuah konten atau postingan di blog atau mencari niche yang cocok untuk di patokan dalam membuat blog. Kembali lagi ke topik tentang skripsi, emosi dan cinta yang selalu membuat badan terasa lemas, serba salah, dsb.

Sebenernya menjadi mahasiswa tidaklah sulit, datang ke kampus, berkumul bersama teman-teman, ngobrol asik dengan topik yang berbeda-beda setiap orangnnya. Sangat bahagia bukan?

Namun....


Disaat seorang mahasiswa sudah menginjakkan kaki di semesetar akhir, yang sudah di hadapkan dengan JUDUL SKRIPSI, tentunya hal tersebut sedikit menjadi momok tersendiri bagi beberapa atau banyak mahasiswa yang ada di indonesia, ya khususnya bagi teman-teman saya pribadi.

Otak mahasiswa diperas untuk memilah dimana materi yang akan dijadikan referensi dalam skripsinya. Emosi mahasiswa terpecah saat dia harus selalu revisi, harus selalu menghadap sang dosen pembimbing, dan tentu rasa cinta terhadap semua yang dijalani saat masa-masa kuliah harus sudah ditinggalkan bersama berjalnnya waktu.

Terkadang saya sendiri pernah bertanya dalam sebuah sisi waktu, "Mengapa hal ini bisa terjadi? Apakah saya akan kehilangan semuanya (temen-teman, dan kondisi yang nyaman)?

Kontroversi skripsi sendiri akan menjadi tinggi saat dimana seorang mahasiswa terkatung-katung saat di melihat teman-temannya sudah mulai meninggalkannya atau garapan skripsi teman sudah mulai kelar dan garapana skrisinya belum berjalan seperti yang terjadi pada teman-teman.

Saat itu, pasti timbul gejolak emosi yang ta tertahankan, antara semangat atau malah hanya berdiam diri sebab sang mahasiswa tersebut berpikir garapan skripsinya susah, materinya sulit ditemukan, buku referensi tidak ada.

Lalu apa yang terjadi?

Yaaaah, inilah kemelut bagi mahasiswa yang demikian,. menghadapi saat masa-masa yang paling di tunggu oleh setiap orang, baik dari mahasiswa, keluarga, teman-teman, dll. yaitu WISUDA.


Secara umum, Wisuda adalah perayaan kelulusan bagi mahasiswa strata 1 (S1) yang dilakukan oleh pihak kampus. perayaan yang membuat tetes air mata dalam hati, entah itu perasaan bahagia ataupun sedih sangatlah bercampur aduk yang tidak dapat di sampaikan oleh mulut.
Saya pribadi menatap hal tersebut sebuah hal yang mengerikan seandainya 1 tahun yang lalu tidak bisa mengikuti perayaan tersebut. 

Emosi tak bercampur-aduk. 

Kala melihat teman seperguruan memakai toga, dipanggil kedepan, berjabat tangan dengan rektor atau dekan. Lalu melihat senyum di raut wajah orang tua yang melihat kita dengan bangganya, yang membuat hati menjadi dingin.

Sungguh-sungguh hal yang tak terlupakan.

Kembali lagi ke mahasiswa yang tertinggal!

Mahasiswa yang saya sebutkan ini tentunya akan memperlihatkan perilaku yang biasa saja, dia bisa saja termotivasi untuk segera menyelesaikan skipsinya. Tapi ada pula yang malah terbelenggu dengan zona nyaman yang selalu mengelilinginya setiap saat.

Demikianlah sedikit opini tentang skripsi, emosi dan cinta. Saya menulis ini hanya ingin berbagi pendapat dengan semua rekan-rekan pembaca sekalian, dimana pasti sudah pernah melewati hal ini atau akan melewati.
Disqus Comments